Beranda / Technology / Wall Street Tertekan Inflasi, Saham Teknologi dan Keuangan Pimpin Koreksi Terdalam

Wall Street Tertekan Inflasi, Saham Teknologi dan Keuangan Pimpin Koreksi Terdalam

KAUSA.CO.ID, Jakarta — Indeks saham utama di Amerika Serikat ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat, 27 Februari 2026 waktu setempat, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Tekanan terutama datang dari saham teknologi dan keuangan yang memimpin koreksi bulanan terdalam sejak Maret tahun lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 521,28 poin atau 1,05 persen ke level 48.977,92. Sementara S&P 500 melemah 29,98 poin atau 0,43 persen ke 6.878,88 dan Nasdaq Composite terkoreksi 210,17 poin atau 0,92 persen ke posisi 22.668,21.

Secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan paling dalam sejak Maret 2025. Koreksi ini menandai perubahan sentimen pasar dari pola reli jangka pendek menjadi tekanan yang lebih struktural. Di Bursa New York (NYSE), rasio saham turun dibanding naik mencapai 1,31 banding 1. Di Nasdaq, perbandingannya lebih tajam, yakni 1,98 banding 1.

Tekanan pasar dipicu oleh data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan analis. Kenaikan harga di tingkat hulu ini memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 90 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen dalam pertemuan Maret mendatang. Ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama membuat valuasi saham pertumbuhan, terutama teknologi, menjadi lebih rentan karena sensitif terhadap tingkat diskonto.


“Pasar mulai menyesuaikan ulang ekspektasi terhadap arah pelonggaran moneter,” kata seorang analis pasar di New York, Jumat. Ia menilai reli panjang saham teknologi dalam beberapa bulan terakhir membuat ruang koreksi semakin terbuka ketika sentimen berubah.

Di sektor keuangan, saham sejumlah bank besar tertekan oleh laporan potensi kerugian terkait eksposur terhadap penyedia hipotek Inggris Market Financial Solutions Ltd. Saham Wells Fargo, Barclays, dan Jefferies yang diperdagangkan di AS turun antara 4 hingga 9 persen.

Tekanan di sektor teknologi tak kalah dalam. Saham Nvidia melemah 4,2 persen meskipun melaporkan laba yang solid. Investor dinilai mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan dan besarnya belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, Zscaler anjlok lebih dari 12 persen setelah melaporkan kerugian kuartalan yang lebih besar dari perkiraan. Koreksi ini menunjukkan pasar semakin selektif terhadap emiten teknologi yang belum mencetak profit konsisten.

Di tengah tekanan tersebut, investor melakukan rotasi ke sektor defensif seperti kebutuhan pokok, kesehatan, dan utilitas. Sektor energi turut menguat didorong kenaikan harga minyak mentah.

Beberapa saham justru mencatat kenaikan signifikan. Netflix melonjak setelah mundur dari persaingan akuisisi Warner Bros Discovery. Saham Block menguat setelah mengumumkan efisiensi tenaga kerja untuk mempercepat integrasi AI. Sedangkan Dell Technologies naik tajam setelah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dari server berbasis AI hingga 2027.

Analis menilai pasar masih memberikan premi terhadap perusahaan yang mampu mengaitkan strategi AI dengan proyeksi pendapatan yang terukur. Namun, secara keseluruhan, dinamika perdagangan akhir Februari mencerminkan fase konsolidasi dan penyesuaian ekspektasi terhadap inflasi, suku bunga, serta risiko global.

Dengan data ekonomi yang masih fluktuatif dan arah kebijakan moneter belum berubah, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *