KAUSA.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mulai memanas setelah serangan udara besar-besaran Tel Aviv terhadap puluhan depot bahan bakar di Iran. Washington disebut terkejut dan marah karena skala operasi militer tersebut dinilai melampaui koordinasi awal antara kedua sekutu.
Serangan yang terjadi pada Sabtu itu menghantam sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan kepulan asap tebal yang terlihat dari jarak bermil-mil.
Sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa operasi tersebut jauh lebih luas dibandingkan informasi awal yang disampaikan pihak Israel kepada Washington. Salah satu pejabat senior bahkan menyebut para petinggi militer Amerika terkejut dengan dampak yang ditimbulkan.
“Gedung Putih tidak melihat penghancuran infrastruktur sipil sebagai ide yang baik,” ujar seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintah, dikutip dari laporan media internasional Al Mayadeen, Senin, dikutip Selasa (10/3/2026
Pemerintah AS khawatir serangan terhadap fasilitas energi yang juga digunakan warga sipil justru akan menjadi bumerang secara strategis. Washington menilai langkah itu berpotensi menyatukan opini publik Iran untuk mendukung pemerintahnya sekaligus memperluas eskalasi konflik.
Selain itu, langkah tersebut dikhawatirkan berdampak besar pada stabilitas pasar energi global. Penasihat Presiden Donald Trump bahkan disebut secara terbuka menyatakan bahwa presiden AS menentang serangan terhadap infrastruktur minyak Iran.
Trump dikabarkan ingin menghindari tindakan yang dapat mendorong lonjakan harga bahan bakar dunia, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan depot-depot bahan bakar yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk memasok energi ke berbagai sektor, termasuk unit militer.
Namun, dampak serangan tersebut langsung terasa di pasar energi dunia setelah foto dan video kebakaran besar di fasilitas minyak Iran menyebar luas.
Harga minyak global melonjak lebih dari 20% pada perdagangan Senin. Minyak Brent naik sekitar US$18 menjadi lebih dari US$111 per barel, sementara minyak WTI juga melesat ke kisaran harga yang sama.
Lonjakan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dunia. Sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai menghindari jalur tersebut karena meningkatnya risiko konflik.
Para ekonom memperingatkan bahwa meskipun Arab Saudi mencoba meningkatkan pengiriman minyak melalui Laut Merah, volume tersebut belum cukup untuk menutup potensi kehilangan pasokan jika konflik terus meningkat.
Ketegangan geopolitik ini juga mengguncang pasar saham global. Indeks saham di Jepang dan Korea Selatan dilaporkan anjlok tajam, sementara indeks berjangka di AS turut melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Situasi ini menandai salah satu ketegangan paling serius antara Washington dan Tel Aviv sejak dimulainya konflik militer terhadap Iran lebih dari sepekan terakhir.










