KAUSA.CO.ID, TIMUR TENGAH – Pemerintah Israel mengungkapkan kerugian ekonomi akibat perang terbuka melawan Iran telah mencapai 9 miliar shekel atau setara USD2,9 miliar (sekitar Rp49 triliun) per pekan.
Data tersebut disampaikan Kementerian Keuangan Israel setelah tujuh hari eskalasi militer yang ditandai serangan udara, peluncuran rudal, serta gangguan aktivitas ekonomi di berbagai kota utama.
Konflik ini dipandang sebagai salah satu konfrontasi paling mahal dalam sejarah keamanan modern Israel, dengan dampak langsung pada sektor industri, penerbangan, perdagangan, dan investasi.
Dalam narasi resminya, Israel membingkai perang ini sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman strategis Iran. Namun sejumlah analis menilai pendekatan tersebut berbeda dibanding konfrontasi Israel terhadap aktor non-negara sebelumnya.
Sejumlah pejabat Israel disebut menyuarakan sikap keras terhadap kepemimpinan Iran, termasuk retorika soal perubahan struktur kekuasaan di Teheran. Meski demikian, kalangan militer Israel juga memahami bahwa eliminasi tokoh tertentu tidak serta-merta mengubah konfigurasi politik internal Iran.
Informasi dari sumber militer menyebutkan operasi udara masih berpotensi berlangsung setidaknya dua pekan ke depan. Serangan intensif diharapkan dapat menekan stabilitas internal Iran, meskipun skenario tersebut masih bersifat spekulatif.
Korban Tewas dan Kecaman Internasional
Laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebutkan jumlah korban tewas akibat serangan AS-Israel telah mencapai 1.045 orang. Serangan terbaru disebut menghantam Teheran, Karaj, serta Isfahan.
Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Iran mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menyebut tindakan militer itu “bertentangan dengan Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.”
Eskalasi yang memasuki gelombang serangan ke-10 dalam satu hari terakhir menambah kekhawatiran komunitas global terhadap potensi perang regional yang lebih luas.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan gelombang serangan ke-16 dan ke-17 dalam operasi yang mereka sebut sebagai “Janji Sejati”.
Serangan balasan ini diklaim menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur strategis Israel. Hingga kini belum ada angka resmi terbaru mengenai total kerusakan di pihak Israel selain estimasi kerugian ekonomi mingguan.
Update IAEA: Fasilitas Nuklir
Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) memberikan pembaruan terkait kondisi fasilitas nuklir Iran.
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, IAEA menyatakan tidak ada kerusakan pada fasilitas yang menyimpan material nuklir, sehingga tidak terdapat risiko pelepasan radiologis saat ini.
Di sekitar lokasi nuklir Isfahan memang terdeteksi kerusakan pada dua bangunan, namun tidak ada dampak tambahan di Natanz setelah kerusakan yang sebelumnya dilaporkan di area pintu masuk. IAEA juga memastikan tidak ada dampak pada fasilitas lain, termasuk PLTN Bushehr.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada Israel dan Iran, tetapi juga memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Jika eskalasi terus berlanjut, analis memperkirakan beban fiskal Israel akan meningkat signifikan, sementara Iran menghadapi tekanan tambahan di tengah sanksi ekonomi yang telah berlangsung lama.
Perang yang memasuki pekan kedua ini kini menjadi perhatian dunia, dengan berbagai negara menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik untuk mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.










