KASUS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa militer Negeri Paman Sam telah melancarkan operasi tempur besar terhadap Iran. Operasi tersebut, menurut Trump, bertujuan melindungi rakyat Amerika dari apa yang ia sebut sebagai ancaman langsung dari rezim Iran yang dinilainya paling berbahaya di dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menuding Iran selama puluhan tahun terlibat dalam aksi teror, menyerang kepentingan Amerika Serikat, membunuh tentara AS, serta mendanai dan mempersenjatai kelompok milisi di kawasan Timur Tengah. Ia secara khusus menyebut dukungan Iran terhadap Hamas sebagai salah satu bentuk ancaman nyata bagi stabilitas regional.
Trump kembali menegaskan sikap keras Washington terhadap program nuklir Teheran. Menurutnya, Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.
“Pesannya sangat sederhana. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump seperti dilansir dari Viory, Sabtu (28/2/2026).
Ia juga mengklaim bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir utama Iran, termasuk di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Namun demikian, menurut Trump, Iran terus berupaya membangun kembali program nuklirnya serta mengembangkan rudal jarak jauh yang dinilai mengancam Amerika dan sekutunya.
Atas dasar itu, ia menyebut AS kembali melaksanakan operasi militer besar yang menargetkan kemampuan militer Iran secara luas, termasuk industri rudal, kekuatan angkatan laut, serta jaringan proksi yang disebutnya sebagai jaringan teror.
Trump juga melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia menyatakan rezim Iran akan menghadapi kehancuran total apabila tetap melawan. Di sisi lain, ia menyerukan kepada Islamic Revolutionary Guard Corps dan aparat keamanan Iran untuk meletakkan senjata, dengan janji pemberian kekebalan penuh.
Pernyataan tersebut mempertegas eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran, yang berpotensi memicu dampak luas bagi stabilitas kawasan Timur Tengah maupun keamanan global.










