Beranda / Pendidikan / Rocky Gerung: Polisi, TNI, Jaksa Tak Ada Honorer, Mengapa Guru Dipaksa Ikhlas?

Rocky Gerung: Polisi, TNI, Jaksa Tak Ada Honorer, Mengapa Guru Dipaksa Ikhlas?

Filsuf dan pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan negara, khususnya dalam memperlakukan sektor pendidikan. Dalam sebuah pernyataan publik, Rocky mempertanyakan logika negara yang dengan mudah menggaji penuh aparat keamanan dan penegak hukum, namun membiarkan jutaan guru hidup dalam status honorer dengan penghasilan minim.

“Polisi tidak ada yang honorer. TNI tidak ada yang honorer. Jaksa juga tidak ada yang honorer. Tapi kenapa guru ada yang honorer?” kata Rocky dengan nada retoris namun menusuk.

Menurut Rocky, kondisi tersebut menunjukkan paradoks besar dalam cara negara menyusun prioritas. Keamanan negara diposisikan sebagai kebutuhan mutlak yang harus digaji layak, sementara pendidikan—yang menjadi fondasi peradaban bangsa, justru sering dibungkus dengan narasi pengabdian dan keikhlasan.

Ia menyindir keras slogan tak tertulis yang selama ini dipraktikkan negara “Keamanan negara digaji, pendidikan bangsa disuruh ikhlas.”

Rocky menilai, negara secara tidak adil membebankan beban moral kepada guru. Profesi pendidik dituntut mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hak-hak dasarnya kerap diabaikan. Guru honorer, kata dia, dipaksa bertahan hidup di tengah inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan tuntutan profesionalisme yang tinggi.
“Negara ini aneh. Yang memegang senjata dihargai penuh, yang memegang kapur disuruh sabar,” ujar Rocky.

Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan kerja sukarela, melainkan kerja intelektual dan strategis yang menentukan masa depan bangsa. Jika negara terus memperlakukan guru sebagai tenaga cadangan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan guru, melainkan kualitas generasi mendatang.

Pernyataan Rocky ini kembali membuka luka lama tentang ketimpangan struktural dalam kebijakan negara. Di tengah jargon pembangunan sumber daya manusia, realitas di lapangan menunjukkan bahwa guru masih berada di lapisan paling rentan dalam sistem pendidikan nasional.

“Bangsa ini bisa runtuh bukan karena kurang tentara, tapi karena gagal menghormati guru,” tutup Rocky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *