TORAJA – Prosesi peradilan adat terhadap komika nasional Pandji Pragiwaksono di Tongkonan Layuk Kaero, Kabupaten Tana Toraja, resmi berakhir pada Selasa (10/2/2026). Dalam putusan adat yang dibacakan oleh tokoh-tokoh adat Toraja, Pandji dijatuhi sanksi berupa denda satu ekor babi dan lima ekor ayam.
Sanksi tersebut dijatuhkan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas materi stand-up comedy lama Pandji yang dinilai menyinggung nilai dan adat masyarakat Toraja, dan kembali mencuat ke ruang publik setelah potongan videonya viral pada 2025.
Pandji menerima putusan itu dengan sikap terbuka dan penuh keikhlasan. Ia menegaskan kesediaannya menjalani sanksi adat sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kultural atas kekeliruan riset dalam materinya.
“Ini bukan sekadar denda, tapi proses belajar dan penyucian diri,” ujar Pandji di hadapan forum adat.
Dalam tradisi Toraja, denda berupa hewan bukan dimaknai sebagai hukuman semata, melainkan ritual pemulihan relasi baik antara manusia dengan komunitas adat, maupun dengan nilai-nilai leluhur. Hewan yang diserahkan menjadi simbol penebusan kesalahan sekaligus upaya menata ulang harmoni sosial.
Tokoh adat Toraja menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah bersama perwakilan 32 wilayah adat se-Toraja, mencerminkan prinsip kolektivitas dalam hukum adat. Mereka juga mengingatkan bahwa hukum adat Toraja berlandaskan prinsip tabur tuai, siapa menanam, dia menuai.
“Jika di kemudian hari perbuatan serupa diulang, maka berkat diyakini tidak akan mengalir,” tegas salah satu tetua adat.
Selama proses peradilan, Pandji menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan mengakui kekeliruannya dalam memahami konteks budaya Toraja saat menyusun materi komedi tersebut. Sikap itu dinilai sebagai langkah penting dalam proses rekonsiliasi adat.
Pandji pun mengaku tersentuh dengan cara masyarakat Toraja menyelesaikan persoalan ini tanpa amarah dan stigma. Ia menyebut peradilan adat tersebut sebagai momen perjumpaan budaya yang hangat, sekaligus pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus selalu dibarengi tanggung jawab kultural.










