Dunia komedi Indonesia mencatat tonggak baru. Pandji Pragiwaksono resmi menjadi komedian Indonesia pertama yang merilis pertunjukan tunggalnya secara global di Netflix. Spesial bertajuk Mens Rea itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah dakwaan. Ia adalah satire. Ia adalah cermin retak yang dipaksa menghadap ke wajah republik.
Sebelum tayang di platform global, Mens Rea telah lebih dulu menjelajah kota-kota Indonesia. Puncaknya berlangsung pada 30 Agustus 2025 di Indonesia Arena, Jakarta. Sepuluh ribu penonton hadir—rekor pertunjukan komedi tunggal terbesar di Asia Tenggara. Selama dua jam penuh, Pandji tampil tanpa sensor, menguliti politik nasional dengan humor yang tak berusaha ramah pada kekuasaan.
Tak butuh waktu lama bagi Mens Rea untuk memuncaki daftar Top 10 Acara TV Netflix Indonesia. Potongan-potongan videonya viral. Bukan karena lelucon receh, melainkan karena keberanian menyebut hal-hal yang kerap dibisiki publik, tapi jarang diucapkan lantang.
Di atas panggung, Pandji tak sekadar menertawakan keadaan. Ia menyerang logika yang runtuh, meritokrasi yang dipermainkan, dan demokrasi yang dipoles seolah baik-baik saja.
“Kita ini bukan kekurangan orang pintar,” kata Pandji dalam salah satu bagian paling tajam.
“Kita cuma kelebihan orang yang merasa cukup pintar karena bapaknya berkuasa.”
Soal kepemimpinan nasional dan simbol kekuasaan yang diwariskan, Pandji menyebut Indonesia tengah berada di fase berbahaya: ketika jabatan publik tak lagi dipertanyakan dengan akal sehat, melainkan diterima sebagai takdir politik.
“Kalau wakil rakyat kita dipilih karena rekam jejak, itu demokrasi. Tapi kalau wakil kita dipilih karena silsilah, itu monarki—cuma pakai hoodie dan sneakers,” ujarnya, disambut riuh penonton.
Nama Gibran Rakabuming Raka tak disebut berulang-ulang. Namun sindiran Pandji terlalu terang untuk disalahpahami. Ia berbicara tentang anak muda yang meloncat ke puncak kekuasaan bukan lewat proses panjang, melainkan jalur pintas yang disterilkan oleh hukum.
“Indonesia ini unik,” lanjut Pandji.
“Kalau anak muda miskin, dibilang kurang pengalaman.
Tapi kalau anak presiden, pengalaman bisa disusul belakangan.”
Dua komika pembuka, Ben Dhanio dan Dany Beler, turut memanaskan arena. Namun malam itu jelas milik Pandji—bukan hanya sebagai komedian, melainkan sebagai warga negara yang menolak diam.
Keberhasilan Mens Rea mengukuhkan posisi Pandji sebagai komika papan atas. Tapi ia memilih jarak dari kenyamanan itu. Di tahun ketiganya bermukim di luar negeri, Pandji kini merintis karier di Amerika Serikat—pusat industri stand-up dunia. Ia membawa keresahan dari Indonesia ke panggung global.
“Saya cinta Indonesia,” kata Pandji menutup pertunjukan.
“Makanya saya kritik.
Karena yang benar-benar tidak peduli, biasanya memilih diam.”
Di tengah republik yang semakin sensitif terhadap kritik, Mens Rea hadir sebagai pengingat, komedi, ketika jujur, bisa menjadi bentuk perlawanan paling rasional.










