Beranda / Politik / 11 MoU Strategis Senilai Rp600 Triliun: Era Baru Hilirisasi, Semikonduktor dan Zona Perdagangan Bebas

11 MoU Strategis Senilai Rp600 Triliun: Era Baru Hilirisasi, Semikonduktor dan Zona Perdagangan Bebas

KAUSA.CO.ID, WASHINGTON D.C. — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan total nilai mencapai 38,4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp600 triliun, Kamis (19/2/2026) waktu setempat.

Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama strategis Indonesia–AS dalam kerangka New Golden Age Indo-US Alliance yang disepakati bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa 11 MoU tersebut bukan sekadar kesepahaman bisnis, melainkan fondasi percepatan transformasi ekonomi nasional.

“Kerja sama ini adalah lompatan besar bagi industrialisasi Indonesia. Kita tidak ingin lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Kita ingin naik kelas, masuk ke rantai nilai global, memperkuat hilirisasi, dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia,” tegas Prabowo.

Ia juga menekankan bahwa seluruh kesepakatan diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Semua kerja sama ini kita lakukan dengan prinsip saling menguntungkan. Indonesia terbuka untuk investasi, tetapi kita tetap menjaga kepentingan nasional dan kedaulatan ekonomi,” lanjutnya.

Salah satu MoU paling strategis adalah kerja sama Critical Mineral antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Freeport-McMoRan, dan PT Freeport Indonesia.
Kerja sama ini ditujukan untuk
Penguatan hilirisasi tembaga dan mineral kritis, Pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik, Integrasi Indonesia dalam rantai pasok energi transisi global.

Langkah ini dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam ekosistem industri energi masa depan.

Sementara itu, MoU antara Pertamina dan Halliburton di bidang oilfield recovery membuka peluang peningkatan produksi migas nasional melalui teknologi enhanced oil recovery. Presiden Prabowo menegaskan sektor energi tetap menjadi prioritas.

“Kita harus mandiri energi. Dengan teknologi dan kemitraan strategis, kita optimistis produksi migas nasional bisa meningkat,” ujarnya.

Dua MoU di bidang semikonduktor antara Galang Bumi Industri dengan mitra AS menjadi sorotan utama. Indonesia mulai diarahkan masuk ke industri chip global yang selama ini didominasi negara maju. Sektor ini dinilai strategis karena Menopang industri elektronik dan otomotif, Mendorong transfer teknologi
Membuka peluang SDM teknologi tinggi

MoU Transnational Free Trade Zone Friendship membuka peluang pembentukan kawasan perdagangan bebas lintas negara yang dapat meningkatkan arus ekspor Indonesia ke pasar Amerika.

Selain itu, sektor tekstil, kapas, dan furnitur juga mendapatkan akses pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan asosiasi industri AS.

Dampak Ekonomi Nasional
Jika terealisasi penuh, 11 MoU ini diproyeksikan akan:

Meningkatkan arus investasi asing langsung (FDI), Menyerap ribuan tenaga kerja, Mempercepat transfer teknologi, Memperkuat daya saing ekspor Indonesia. Pemerintah menyebut implementasi teknis akan dikawal ketat agar sesuai target dan jadwal realisasi.

Langkah ini juga menunjukkan arah kebijakan luar negeri ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo: aktif membangun kemitraan strategis tanpa meninggalkan prinsip kemandirian nasional.

“Indonesia ingin menjadi mitra strategis, bukan hanya pasar. Kita ingin tumbuh bersama,” tutup Presiden Prabowo dalam pernyataannya.

Dengan nilai mencapai Rp600 triliun, 11 MoU ini menjadi salah satu paket kerja sama ekonomi terbesar dalam sejarah hubungan Indonesia–Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *